DISRUPTIVE LEADERS 2

Di dalam dunia yang sangat cepat berubah, dimana teknologi yang ditemukan pagi ini bisa basi esok sore, dan informasi yang diumumkan di Bandung pukul 00.20 bisa diakses orang Kanada hanya satu detik kemudian, adaptasi adalah kompetensi utama untuk bertahan hidup.

Tapi sebagai sebuah organisasi, professional atau enterpreneur, bertahan hidup saja tidak cukup. Para pemimpin yang hebat tidak hanya adaptif terhadap perubahan, mereka justru menciptakan dan memimpin perubahan dalam organisasi dan lingkungannya.

Tentu kita belum bosan menyebut keberhasilan Steve Jobs mengubah Apple dari sebuah perusahaan komputer yang hampir bangkrut menjadi perusahaan gaya hidup yang ikonik dan mendunia.

Di ranah nasional, kita punya Ridwan Kamil dengan pola kepemimpinannya yang kreatif dan inovatif. Secara cepat dan tanpa banyak support dari APBD, Ridwan Kamil mentransformasi fisik dan sistem tata kelola kota Bandung sedemikian rupa, sehingga menuai pujian dari publik nasional dan internasional.     

Steve Jobs dan Ridwan Kamil adalah contoh distruptive leaders. Istilah ini dipinjam dari distruptive innovation, yang menggambarkan percepatan inovasi yang menggila dan tidak bisa diprediksi. Untungnya (atau sialnya), ‘kegilaan’ dan ‘ketidakpastian’ adalah definisi baru dari normal.

Kekacauan disruptive age mengakibatkan data-data penjualan tahun lalu tidak bisa lagi dipakai untuk memprediksi tahun depan, profil konsumen yang kita anggap cocok bulan kemarin mungkin sudah tidak sama lagi tahun depan, karyawan yang kita anggap bintang hari ini mungkin diambil kompetitor bulan depan. Dan ‘kegilaan’ ini nampak di semua industri.

Gaya pemimpin yang suka bermain aman, terlena dengan kegemilangan masa silam atau brand yang sudah ada, tidak akan bertahan lama dalam disruptive age. Ia akan digantikan oleh pemimpin-pemimpin yang berselancar dengan ombak perubahan, menggedor adat-adat lama, siap menerima dan mencari masukan dari luar, serta mengajak organisasi untuk terus meningkatkan level permainan.

Dengan menolak cara-cara lama dan mencari input dari luar, para pemimpin distruptive ini mengembangkan cara-cara baru yang lebih efisien dan lebih efektif, terkadang simple namun mind-blowing. Dengan menolak untuk bersenang-senang dengan capaian hari ini, para pemimpin disruptive memastikan organisasi tidak masuk ke dalam virus C (complacency) yang berbahaya.

 

Di dalam dunia yang cepat, mereka yang lambat atau duduk beristirahat adalah yang paling beresiko.

 

Anda pun bisa menjadi pemimpin dengan kualitas disruptive. Para pemimpin gahar yang cekas. How?

 

  1. Tanya Kenapa.

Kenapa adalah pertanyaan pertama yang harus terlintas dalam benak Anda saat Anda memikirkan bisnis dan organisasi. Kenapa organisasi ini harus ada, kenapa harus menggunakan cara ini, kenapa harus melakukan dengan orang ini. Dengan bertanya “kenapa” Anda mengangkat kabut yang biasanya bertengger di puncak kepemimpinan. Menjawab pertanyaan ini akan menyinari cara-cara baru untuk mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang ingin Anda tuju.

 

  1. Kolaborasi.

Dua kepala selalu lebih baik dari satu kepala. Berbisnis dengan orang yang menghargai kita tentu lebih menarik ketimbang berbisnis dengan si Kepala batu. Raih sebanyak mungkin orang-orang hebat ke dalam lingkaran Anda. Jadikan diskusi dan brainstorming sebagai media untuk memecahkan masalah. Anda tidak mengetahui segala hal, dan setiap orang pasti mengetahui sesuatu yang tidak Anda ketahui.  

 

  1. Humanisasi.

Dalam kecanggihan teknologi seperti sekarang, sangat mudah untuk mengandalkan gawai untuk berkomunikasi dengan orang lain. Tapi percayalah, diskusi empat mata akan lebih menghasilkan respon yang baik ketimbang email singkat dengan kata-kata tegas. Telefon masih lebih baik ketimbang email, karena ada unsur suara di dalamnya. Humanisasi interaksi Anda.

 

Apakah Anda sudah siap menjadi pemimpin gahar dan cekas? Apakah Anda siap memimpin perubahan? Start now.

 

[@dinarkarani]