Ask And You Shall Receive 2

Kenapa orang-orang yang sukses itu selalu mendapatkan apa yang mereka minta saat mereka minta? Apa ada yang berbeda dari cara mereka meminta? Apakah ini ada hubungannya dengan kepribadian atau keberuntungan? Atau ini seni yang bisa dipelajari oleh siapapun?

Keterampilan untuk meminta dan mengatakan tidak adalah salah satu kunci sukses orang-orang hebat. Tapi dalam budaya timur, asking directly of what we want memang tidak didorong, dan seringnya malah dikerdilkan, dianggap tidak sopan.

Nah, mata jadi penting sekali bagi kita untuk belajar cara meminta dengan baik. Thus, increasing the odds of getting what we want.

 

SATU: TAHU APA YANG KAMU MAU 

 

Deeeuh, memangnya ada orang yang ga tahu apa yang dia mau? Banyak. Bahkan bisa jadi kebanyakan dari kita sebetulnya ngga tahu apa yang kita mau.

Contoh, saya ingin karir yang melesat, keluarga yang harmonis, dan uang yang banyak. Tapi, karir yang melesat ini karir yang macam apa? Apakah dalam karir yang sekarang, atau karir yang lain, secepat apakah melesat itu, dimanakah zenith-nya? Keluarga yang harmonis ini yang seperti apa? Uang yang banyak ini sebanyak apa?

Perjelas dulu dengan pasti apa yang kamu benar-benar mau. Contoh, daripada mengaburkan diri dengan bilang “ingin jadi dosen”, perjelas saja, “tahun depan saya InsyaAllah ingin mengajar di salah satu universitas swasta, menjadi dosen ilmu komunikasi”. Itu baru jelas.

 

DUA: PERJELAS KENAPA KAMU MENGINGINKAN ITU

 

Setelah mengetahui apa yang kita inginkah, periksa kembali ke dalam hati, mengapa kita menginginkan itu? Apakah yang saya minta ini sesuai dengan nilai yang saya pegang? Apakah sesuai dengan tujuan hidup saya?

Jika ternyata jawabannya “tidak”, tanyakan lagi kepada hati, kenapa kita mengejar itu? Apakah itu penting untuk dikejar? Apakah ada hal lain yang lebih penting untuk kita kejar?

Jika ternyata jawabannya “ya”, yakinkan diri sendiri, siapkah untuk meng-ekspos ‘kelemahan’ kita? Karena saat kita meminta sesuatu sejatinya kita sedang menempatkan diri pada pihak yang membuka kelemahan. (Saya memerlukan sesuatu, dan kamu bisa memberikan apa yang saya mau).

Menampakan kelemahan itu baik. It’s part of being human, and it’s a very humbling experience.

 

TIGA: MINTA, SERIUS, MINTA SAJA

 

Jangan muter-muter dulu, ngga perlu cerita dari A ke Z, disambung ke A’ dan Z’. Serius, langsung minta aja. Kebanyakan dari kita ngga bisa membaca pikiran, dan malu untuk mengambil kesimpulan, jadi permudah sajalah. Tak perlu pakai kata bersayap, tak perlu pakai berpantun.  

 

EMPAT: LANGSUNG, JELAS DAN SPESIFIK

 

Sama dengan tips menulis, sedapat mungkin coba lengkapi unsur 5W+1H.

    What   : Apa yang kamu minta

    Why    : Kenapa kamu menginginkan itu

    When  : Kapan kamu menginginkan itu terjadi

    Where : Dimana kamu menginginkan itu terjadi

    Who    : Siapa yang kamu inginkan

    How    : Bagaimana cara mendapatkannya

Ngga perlu semua, selengkap yang kamu bisa aja.

 

lIMA: MINTA PADA ORAG YANG TEPAT

 

Nah, ini kunci-nya. Sebelum secara impulsif meminta jodoh pada setiap orang yang lewat di newsfeed, bukankah lebih baik meminta kepada orang yang benar-benar bisa mem-provide jodoh? Ustadz, misalnya. Hehe…

Serius nih, jika kamu ingin mendapatkan pendanaan untuk sebuah acara sosial, daripada email blast atau sms blast ke seluruh kontak, lebih hemat tenaga dan menyenangkan buat semua orang jika kamu bertemu para pemilik perusahaan atau pemimpin organisasi.

 

ENAM: TAMPILKAN PERMINTAAN DALAM BERBAGAI KESEMPATAN

 

Serius, iklan aja diulang-ulang, padahal ngga penting. Apalagi permintaan yang sesuai dengan nilai dan tujuan hidup. Sebisa mungkin, dalam berbagai kesempatan, ulangi permintaanmu.

Ganti aja redaksinya, biar orang yang mendengarnya ga bosen. Bikin setting yang memungkinkan orang ingat kamu saat mengingat objek yang kamu minta.

Seberapa sering? Sesering mungkin. 😀

 

TUJUH: FOLLOW-UP

 

Setelah minta, jangan lupa untuk meminta komitmen atas permintaan kamu.  Tindak-lanjuti permintaanmu, jangan dibiarkan sebatas wacana.

Follow-up adalah salah satu disiplin dalam mendapatkan yang kamu mau. Tidak setiap orang menindak-lanjuti permintaan mereka. Ya tembak aja, kemudian ditinggal. Hehe.. ngok banget.

Tips melakukan follow-up adalah dengan menanyakan:

  • Apakah situasi mendukung konteks dan konten permintaan? Jika konteks situasinya sedang rapat mengenai kericuhan internal -misalnya- adalah sangat tidak bijak jika kamu memutuskan untuk follow-up permintaan naik gaji.  
  • Apakah waktunya tepat? Jika si Boss lagi terlihat pusing, adalah sangat tidak bijak untuk memfollow-up permintaan naik gaji. Hehe..
  • Apakah saya sudah cukup pede? Kepercayaan diri itu penting saudara-saudara. Bayangkan kamu masuk ke ruangan si Boss untuk follow-up kenaikan gaji dengan bahasa tubuh yang ragu-ragu. Hmm, tidak meyakinkan. In order for people to be convinced about what you ask, you have to convince your self first.
  • Apakah saya siap bernegosiasi? Negosiasi adalah penting dalam follow-up. Selalu berikan ruang untuk negosiasi. Berikan alternatif dan opsi. Tapi jangan terlalu banyak. Tiga adalah jumlah opsi terbanyak.
  • Apakah saya siap berkomitmen? Negosiasi pasti menghasilkan komitmen. Mungkin si Boss akan minta kamu untuk bikin program kerja 100 hari jika kamu mendapatkan promosi yang kamu mau. Are you willing to do it? If yes, then hell yeah, congratulation! You just got your self a raise!

 

DELAPAN: FOLLOW-TROUGH

 

Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu minta, please, follow-through semua komitmen yang kamu berikan.

Kembali ke contoh naik gaji. Jika kamu berkomitmen untuk melakukan program kerja 100 hari setelah berhasil mendapatkan promosi, ga ada pilihan lain bagi kamu selain melakukannya. Ini adalah disiplin lain yang dimiliki orang-orang hebat. Do follow-through. Do what you said you’ll do. Most people don’t.

 

Mudah-mudahan dengan menerapkan tips-tips di atas, kamu jadi lebih mudah mendapatkan apa yang kamu mau. May your dreams be near!

Be BRAVE to ASK ya guys!

@dinarkarani